Upaya mengangkat pamor sarung jadi gaya hidup baru

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya mengangkat pamor sarung untuk menjadikannya sebagai gaya hidup baru atau new lifestyle. Hal itu juga dilakukan agar pemanfaatan sarung dapat meluas dan fashionable.

Direktur Jenderal Industri, Kecil, Menengah dan Aneka (IKM) Kemenperin, Gati Wibawanngsih, mengungkapkan sarung sebagai new lifestyle adalah sebuah konsep menjadikan sarung sebagai sebuah produk fesyen. Jadi sarung bukan hanya digunakan untuk beribadah, namun juga untuk kegiatan sehari-hari –baik formal maupun informal, laki-laki maupun perempuan.

“Sarung telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan dan menjadi identitas bangsa, penggunaannya untuk busana harian, ibadah, upacara keagamaan dan pesta,” jelas Gati dikutip dari siaran pers Kemenperin, Selasa (5/3/2019).

Kemenperin pun menggelar Festival Sarung Indonesia 2019 di Plaza Tenggara, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (3/3). Kemenperin memfasilitasi sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dari berbagai daerah untuk ambil bagian pada festival tersebut.

“Selain memamerkan kain sarung dari berbagai daerah, kami juga menampilkan video animasi pembuatan sarung tradisional dan tutorial penggunaan sarung sebagai new lifestyle. Kemenperin juga hadirkan perajin sarung dari Sragen dan Sumatera Barat untuk mendemokan proses pembuatan sarung,” ungkap Gatri.

Gati menyebut Indonesia punya potensi industri sarung yang sangat besar. Produsen sarung ini terdiri dari industri skala kecil, menengah dan juga besar. Menurut data Kemenperin, industri kecil dan menengah produsen sarung mencapai 16.152 unit usaha yang berlokasi di dalam maupun di luar sentra IKM.

Jumlah sentra IKM produsen sarung sebanyak 389 yang tersebar di 17 provinsi. Misalnya di Aceh, Sumatra Barat, Jawa Barat, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Sementara industri sarung skala besar sebanyak 45 unit usaha.

“Kami berharap penggunaan sarung oleh masyarakat semakin meningkat karena hal ini tentunya akan mendorong pertumbuhan industri tekstil, khususnya industri sarung,” imbuhnya.

Sementara itu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) lebih banyak mengalokasikan dana pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR) untuk produsen sarung rumahan.

Sekretaris Jenderal API, Ernovian G Ismy, kepada Republika.co.id mengungkapkan, permintaan muncul lantaran pelaku UMKM produsen sarung selama ini mengaku kesulitan mengakses pasar. Kesulitan terjadi akibat minimnya dukungan permodalan.

BUMN dan BUMD, kata Ismy, bisa mendukung industri sarung dengan cara menjadi “bapak angkat”. “Karena si produsen sarung ini sangat terbatas modalnya,” ujar Ismy, Senin (4/3).

You might like

About the Author: Mr. Alvharezky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *